SISTEM MANAJEMEN MUTU LABOR IPA


SISTEM MANAJEMEN MUTU LABOR IPA
Laboratorium memiliki struktur organisasi yang setiap anggotanya memiliki tugas pokok dan fungsi masing-masing. Kepala sekolah dalam organisasi laboratorium memiliki tugas dan fungsi sebagai penanggungjawab. Kepala sekolah dan kepala laboratorium memiliki hubungan hierarki dalam struktur organisasi laboratorium. Dalam struktur organisasi laboratorium juga ada teknisi dan laboran yang masing-masing memiliki tugas pokok dan fungsi dalam laboratorium.
Laboratorium IPA di sekolah merupakan salah satu wahana belajar bagi siswa. Untuk menghasilkan proses belajar yang berkualitas, laboratorium perlu dilengkapi dengan sarana prasara yang menunjang paling tidak sesuai dengan standar sarana laboratorium. Untuk itu, fungsi laboratorium IPA sebagai wadah untuk melakukan praktik atau penerapan atas teori, penelitian, dan pengembangan keilmuan IPA, dan untuk mutunya pun harus memiliki standar tersendiri.

Pengertian Mutu laboratorium IPA
Kualitas/mutu dapat didefinisikan sebagai suatu ketelitian, kehandalan, dan ketepatan waktu dalam melaporkan hasil tesHasil tes laboratorium harus seakurat mungkin, semua aspek yang menyangkut pengoperasian laboratorium harus diakui, dan pelaporannya harus tepat waktu karena banyak digunakan dalam lingkungan kesehatan publik dan klinis
Sistem manajemen mutu dapat didefinisikan sebagai "kegiatan yang terkoordinasi untuk mengarahkan dan mengendalikan organisasi dengan memperhatikan mutu". Definisi ini digunakan oleh Organisasi Internasional untuk Standardisasi (ISO) dan oleh Klinis dan Institut Standar Laboratorium (CLSI). Kedua kelompok ini diakui secara Internasional oleh organisasi standar laboratorium
Model mutu di sini digunakan untuk mengatur semua kegiatan laboratorium menjadi 12 sistem mutu yang penting. Sistem mutu yang penting ini adalah seperangkat dari kegiatan yang dikordinasikan yang berfungsi seperti balok bangunan untuk manajemen mutu. Masing-masing harus diatasi jika peningkatan kualitas laboratorium secara keseluruhan yang ingin dicapai. Model sistem manajemen dikembangkan oleh CLSI, dan sepenuhnya sesuai dengan standar ISO
ISO 9000 mendefenisikan manajemen mutu sebagai “ kegiatan yang terkoordinasi atau teratur untuk mengarahkan dan mengendalikan organisasi dalam hal mutu “. Hal ini erat kaitannya dengan defenisi dari system struktur organisasi, sumber daya yang berkualitas, proses dan prosedur yang diperlukan untuk menerapkan manajemen mutu. Konsep manajemen mutu yang diguanakan pada saat ini pertama kali muncul pada awal abad ke-20 dan merupakan hasil dari proses manufaktur dan toko
IPA sedikitnya mencakup empat kegiatan utama, yakni (1) melaksanakan eksperimen, (2) kerja laboratorium, (3) praktikum, dan (4) pelaksanaan didaktik pendidikan IPA. Eksperimen dilakukan di laboratorium guna menemukan bukti empirik untuk menguji dan memverifikasi hipotesis, melalui kegiatan pengukuran dan pengamatan. Kerja laboratorium merupakan aktifitas dengan menggunakan fasilitas laboratorium untuk melakukan kegiatan berkesinambungan, melakukan kendali mutu, uji-coba, ekshibisi (pameran) proses IPA, dan kegiatan lain yang sejenis. Praktikum di sekolah umumnya bersifat verifikatif sebagai kegiatan belajar bagi siswa dengan mengikuti langkah-langkah atau penuntut praktikum yang telah disusun guru. Praktikum di sekolah dikembangkan lebih pada kegiatan inkuiri dan berkaitan erat dengan pelaksanaan didaktik pendidikan IPA.
Di samping itu, laboratorium IPA hendaknya memiliki fasilitas keamanan standar, seperti alat pemadam kebakaran (handfire), blower, tempat sampah (organik dan anorganik), ruang asam (fume hood), shower. Lebih baik apabila terdapat detektor asap (smoke detector), detektor api (heat detector), dan keran pencuci mata (eye wash). Selain itu, perlu tersedianya peralatan P3K sebagai antisipasi pertolongan pertama pada kecelakaan
Peralatan dan bahan di laboratorium IPA harus memenuhi standar minimal sarana laboratorium IPA. Selain peralatan dan bahan yang karakteristik untuk setiap laboratorium IPA, sarana kelengkapan umum yang harus tersedia di laboratorium adalah meja dan kursi siswa, meja dan kursi guru, meja demonstrasi, wastafel, lemari alat dan bahan, papan tulis, serta peralatan spesifik (seperti jam dinding, termometer dinding, barometer dinding, komputer, jaringan internet, telpon, layar, dan proyektor). Selain itu peralatan yang penting ada pada laboratorium adalah peralatan perlindungan diri (APD). Secara umum APD yang harus ada pada laboratorium IPA, diantaranya sarung tangan, google, masker, dan jaslab.
Personil laboratorium IPA harus memiliki kompetensi sesuai dengan kebutuhan. Selain kepala laboratorium yang bertanggungjawab terhadap semua kegiatan di laboratorium, personil di laboratorium, antara lain koordinator praktikum, guru praktikum, teknisi, dan laboran. Koordinator praktikum bertugas untuk mengkoordinasi kegiatan praktikum di laboratorium. Guru praktikum merupakan ujung tombak kegiatan praktikum di laboratorium, sedangkan teknisi dan laboran berperan sebagai layanan sebelum, selama, dan sesudah praktikum. Di laboratorium IPA sekolah yang bertanggungjawab terhadap kebersihan dan keamanan laboratorium selama bekerja di laboratorium adalah semua warga laboratorium. Dengan demikian, semua personil termasuk guru praktikum, laboran, dan siswa memiliki kewajiban dalam memelihara kebersihan dan keamanan laboratorium.
Sekecil apapun unit kerja, haruslah memiliki struktur organisasi yang jelas agar dengan mudah mengarahkan pekerjaan. Berdasarkan hirarki tanggung jawab, struktur organisasi laboratorium IPA sekolah dapat dikembangkan dalam tiga tingkatan, yakni tingkat puncak, menengah, dan garis depan. Manajemen puncak bertanggung jawab atas perencanaan, penerapan, monitoring, dan evaluasi sistem menajemen mutu yang efektif. Manajemen tingkat menengah umumnya mencakup unit fungsional, bertanggung jawab pada operasional atau teknis kegiatan laboratorium, fungsi pengawasan mutu, dan fungsi administratif. Manajemen garis depan adalah personil yang berhubungan langsung dengan pengguna laboratorium (siswa) yang meliputi guru praktikum, teknisi, dan laboran.

Sistem manajemen mutu untuk semua proses
Kompleksitas dari sistem laboratorium mensyaratkan bahwa banyak faktor yang harus diterapkan untuk menjamin mutu di laboratorium. Beberapa faktor tersebut antara lain :
Ø  lingkungan laboratorium
Ø  prosedur pengendalian mutu
Ø  komunikasi
Ø  pencatatan
Ø  kecakapan dan staf yang berpengalaman
Ø  alat dan bahan yang berkualitas.

Sekilas tentang model sistem manajemen mutu

Ketika semua prosedur laboratorium dan proses tersebut akan disusun dalam struktur yang dapat dimengerti dan diterapkan, kesempatan untuk memastikan bahwa semua dikelola dengan baik juga meningkat. Model mutu di sini digunakan untuk mengatur semua kegiatan laboratorium menjadi 12 sistem mutu yang penting. Sistem mutu yang penting ini adalah seperangkat dari kegiatan yang dikordinasikan yang berfungsi seperti balok bangunan untuk manajemen mutu. Masing-masing harus diatasi jika peningkatan kualitas laboratorium secara keseluruhan yang ingin dicapai. Model sistem manajemen dikembangkan oleh CLSI, dan sepenuhnya sesuai dengan standar ISO.

Sistem Manajemen Mutu Laboratorium IPA
1.      Organisasi Laboratorium
Laboratorium memiliki struktur organisasi yang setiap anggotanya memiliki tugas pokok dan fungsi masing-masing. Kepala sekolah dalam organisasi laboratorium memiliki tugas dan fungsi sebagai penanggungjawab. Kepala sekolah dan kepala laboratorium memiliki hubungan hierarki dalam struktur organisasi laboratorium. Dalam struktur organisasi laboratorium juga ada teknisi dan laboran yang masing-masing memiliki tugas pokok dan fungsi dalam laboratorium.
2.      Personal
Aspek personal dalam manajemen mutu berkaitan dengan kompetensi dari setiap tenaga yang ada di laboratorium. Kompetensi yang harus dimiliki setiap kepala laboratorium, teknisi, dan laboran mengacu pada standar pemerintah No. 26 Tahun 2008. Adapun kompetensi yang harus dimiliki antara lain:
Ø  kompetensi kepribadian
Ø  kompetensi sosial
Ø  kompetensi manajerial
Ø  kompetensi administratif
Ø  kompetensi profesional
3.      Equipment
Equipment dimaksud disini adalah peralatan yang ada di laboratorium. Adapun peralatan di laboratorium yaitu tabung reaksi, cawan petri, pipet tetes, pengaduk, gelas ukur, spiritus, dan segala alat yang biasa dipakai dalam praktikum.
4.      Information management
Informasi dibedakan berdasarkan sifatnya ada 2 yaitu akuntabilitas dan responsibilitas. Informasi yang bersifat akuntabilitas adalah informasi yang arahnya vertikal (keatas). Informasi yang bersifat akuntabilitas dapat dikatakan administratif. Informasi yang bersifat responsibilitas adalah informasi yang arahnya horizontal (kiri-kanan dan bawah). Informasi yang responsibilitas ini dapat dikatakan bersama. Saat memanajemen informasi yang ada di laboratorium harus bisa membedakan antara informasi yang bisa dibagikan ke publik dengan informasi yang tidak bisa dibagikan ke publik. Sebagai contoh, kita tidak boleh memberitahukan informasi tentang dimana membeli zat-zat kimia yang sifatnya terlarang karena dapat dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu untuk kepentingan kriminal. Selain itu, kita sebaiknya melaporkan aliran dana yang ada di laboratorium kepada anggota organisasi laboratorium saja.
5.      Proses Pengendalian
Proses pengendalian lebih menekankan pada penggunaan bahan yang berbahaya terhadap praktikum terutama limbah. Setiap laboratorium harus memiliki tempat pembuangan limbah hasil praktikum. Sebaiknya limbah dibuang di tempat sampah yang berbeda-beda sesuai jenis limbahnya agar tidak terjadi kontaminasi ataupun kecelakaan yang dapat membahayakan keselamatan orang-orang yang ada di laboratorium. Terkait penggunaan bahan yang berbahaya dalam praktikum sebaiknya diganti dengan bahan yang lebih aman bagi keselamatan praktikan akan tetapi fungsinya sama.
6.      Purchasing and Inventory
Sebelum membeli barang untuk laboratorium sebaiknya di data dahulu alat dan bahan yang ada di laboratorium. Alat dan bahan yang ada dicek kelayakannya dan jumlahnya. Apabila stok alat atau bahan tinggal sedikit sebaiknya cepat-cepat dibeli atau dipesan sebelum praktikum dilaksanakan agar tidak menghambat keterlaksanaan praktikum. Inventarisasi alat dan bahan harus terus dilakukan dan dicatat sebagai laporan kepada kepala laboratorium. Inventarisasi yang baik dapat menunjang kemajuan laboratorium.
7.      Document and Record
Dokumen yang ada di laboratorium meliputi berita acara serta dokumen-dokumen kegiatan yang ada di laboratorium. Perekaman berkaitan dengan alat yang dipakai di laboratorium. Setiap kegiatan di laboratorium harus terdokumentasi dengan baik sebagai pertanggungjawaban dalam mengelola laboratorium.
8.      Occurred Management
Manajemen terkait penyimpangan di laboratorium ditekankan pada antisipasi. Keamanan dan keselamatan di laboratorium harus dibuat standar operasional prosedur (SOP).
9.      Assesment
Penilaian merupakan target ketercapaian untuk setiap jenis layanan yang ada di laboratorium. Setiap kegiatan yang ada di laboratorium haruslah dievaluasi atau dimonitoring.
10.  Facility and Safety
Fasilitas yang mendukung keselamatan kerja di laboratorium antara lain: ventilasi, lemari asam, alat pemadam kebakaran, aliran listrik, aliran air, dan sebagainya. Selain itu, gunakanlah baju lab, masker dan sarung tangan saat praktikum guna perlindungan diri dari bahaya zat ataupun alat.
11.  Customer service
Kerja customer service adalah piket terhadap kebersihan dan pelayanan yang ada di laboratorium. Sekolah yang laboratoriumnya tidak memiliki customer service bisa meminta siswa untuk membantu saat ada praktikum akan tetapi tidak mengganggu aktivitas belajar siswa tersebut.
12.  Process improvement
Proses kemajuan terhadap laboratorium dapat dilakukan dengan cara merefleksi setiap kegiatan yang ada di laboratorium. Refleksi ini sangat penting dilakukan guna kemajuan laboratorium. Tanamkanlah prinsip: Hari ini lebih baik dari hari kemarin

Pertanyaan yang saya ingin ajukan
1.      Apakah mutu laboratorium IPA sama dengan sistem mutu laboratorium umum?
2.      Siapa yang menjadi pengawas mutu laboratorium?
3.      Jika terjadi kecelakaan pada saat praktikum, siapa yang harus bertanggung jawab? Apakah laboran atau guru?


Komentar

  1. Menanggapi pertanyaan nomor Tiga yaitu Jika terjadi kecelakaan pada saat praktikum, siapa yang harus bertanggung jawab? Apakah laboran atau guru?
    Jika terjadi kecelakaan pada praktikum yang harus bertanggungjawab adalah semua unsur organisasi pada laboratorium termasuk peserta didiknya. Namun perlu dilihat juga terjadi kesalahan akibat kelalaian siapa, laboran, guru atau peserta didik.

    Salam
    Agung Laksono

    BalasHapus
  2. terimakasih artikelnya, terkait pertanyaan terakhir Jika terjadi kecelakaan pada saat praktikum, siapa yang harus bertanggung jawab? Apakah laboran atau guru? menurut saya semua yang terlibat dalam praktikum bertanggung jawab. menurut saya untuk meminimalisir hal ini semua siswa harus tauletak-letak penting dari laboratorium dan yang tidak kalah penting siswa sudah mengerti arahan yang diberikan oleh guru terutama mengenai hal yang bahaya. jika mereka mengerti tapi masih tetap melakukan maka itu kesalahan siswa yang juga harus dipertanggung jawabkan guru dan laboran karena terlepas mengawasi siwa tersebut. terimakasih

    BalasHapus
  3. Terima kasih....
    menjawan soal nmor 1 Apakah mutu laboratorium IPA sama dengan sistem mutu laboratorium umum?
    menurut saya laboratorium memiliki fungsi nya masing-masing. lab rumah skit, lab industri makanan, lab hasil bumi perminyakan maupun lab disekolah/universitas. jika lab tersebut sudah mendapat sertifikat pendirian dan manajemen lab. maka sistem mutu lab sama dalam artian hanya ada beberapa poin tugas lab yang berbeda.

    BalasHapus
  4. Assalamualaikum wr.wb menurut pendapat saya jika terjadi kecelakaan dilaboratorium yang bertanggung jawab adalah semua pihak yang sedang melaksanakan praktikum agar terhindar dari kecelakaan harus didampingi guru mata pelajaran atau laboran

    BalasHapus
  5. Menanggapi pertanyaan nomor 3. untuk mengidentifikasi siapa saja yang bertanggungjawab adalah dengan memastikan apa yang sebenarnya terjadi. jika masalah disebabkan karena human error, mungkin yang perlu bertanggungjawab adalah yang mengalaminya dan laboran sendiri. namun jika masalah terjadi karena kesalahan teknis, penataan ruangan, atau alat dan bahan yang tidak dikelola dengan baik, maka semua unsur berwenang perlu bertanggungjawab.

    BalasHapus
  6. Assalamualaikum wr.wb
    Kalau menurut saya yang bertangung jawab jika terjadi kecelakaan pada saat pratikum adalah semua pihak yang terlibat pratikum, untuk menghindari terjadinya kecelakaan harus berhati-hati dan disiplin dalam laboratorium dan diawasi oleh pendamping prarikum/ guru

    BalasHapus
  7. Menanggapi pertanyaan tentang kecelakaan pda saat didalam laboratorium kita perlu melihat sebab awal dri kecelakaan tersebut, apakah karena siswa tersebut ceroboh dan tidak melaksanakan praktikum dengan langkah yg benar atau krn penggunaan alat yg tidak diawasi. Tapi untuk keamanan dan keselamatan didalam laboratorium adalah tanggung jawab semua pihak, tidak dapat dibebankan kepada seseorg saja, krn demi keselamatan bersama

    BalasHapus


  8. Menanggapi soal no 3.
    Menurut saya yang bertanggungjawab jika terjadi kecelakaan dalam pelaksanaan praktikum adalah semua unsur yang terlibat di dalam pelaksanaan praktikum tersebut....

    Namun yang terpenting adalah bukan mencari siapa yg harus bertanggung jawab, tetapi yang harus di lakukan terlebih dahulu yaitu menangani kecelakaan tersebut dengan sebaik baiknya

    BalasHapus
  9. Assalamualaikum wr wb
    Menanggapi pertanyaan no 3
    Apabila terjadi kecelakaan yang bertanggung jawab adalah semua pihak yang berada dan sedang melakukan kegiatan praktikum/penelitian di laboratorium.

    BalasHapus
  10. Menurut pendapat saya, jika terjadi kecelakaan pada saat praktikum, siapa yang harus bertanggung jawab? Apakah laboran atau guru?
    yang bertanggungjawab adalah semua anggota praktikum pada saat itu maka dari itu sebelum melakukan praktikum, seorang teknisi atau guru harus menjelaskan tata cara praktikum yang baik dan benar dan pertolongan pertama pada kecelakaan pada saat praktikum, supaya kecelakaan bisa di minimalisir.

    BalasHapus
  11. Jika terjadi kecelakaan saat praktikum yg harus bertanggung jawab semua aspek baik itu guru atau yg pihak Labor.

    BalasHapus
  12. saya mencoba menjawab soal no. 2
    menurut saya yang menjadi pengawas mutu laboratorium secara struktur/organisasi adalah kepala laboratorium dan orang-orang yang dipercayakan dalm struktur perangkat organisasi di dalam laboratorium serta para pengawas sekolah

    BalasHapus
  13. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 3, yaitu Jika terjadi kecelakaan pada saat praktikum, siapa yang harus bertanggung jawab? Apakah laboran atau guru? Tergantung kecelakaan apa yang terjadi misalkan siswa memecahkan gelas kimia kosong yang tidak membahayakan maka yang bertanggung jawab adalah siswa tersebut untuk mengganti gelas kimia tersebut, Jadi menurut saya yang harus bertanggung jawab adalah oknum yang menyebabkan kecelakaan tersebut.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

BASIC LABORATORY SKILLS ( PELAKSANAAN)